Tak Pernah Semenyesal Ini.....

Ini terjadi beberapa bulan yang lalu.

“Yan, yan, enak nih filmnya. Ada hot-hot nya” kata teman saya oping sambil menunjukkan sebuah dvd berjudul “Froooggg”. Saat itu kami berdua sedang hunting dvd di salah satu toko dvd. Esok hari adalah hari libur dan kami berencana untuk begadang semalam suntuk sambil nonton film di salah satu rumah teman saya. Dvd yang ditunjukkan oleh sohib saya itu sepertinya bukanlah golongan film kelas atas hollywood. Saya menaksir itu adalah film yang masuk golongan kelas B. Sampul dvd menunjukkan gambar monster berbentuk kodok yang sedang mengejar seorang gadis. Lalu teman saya membalik dvdnya dan menunjukkan kover belakang dari dvd tersebut yang memuat foto2 cuplikan dari isi film itu sendiri. Satu persatu gambar adegan itu saya perhatikan dan saya tahu kenapa teman saya itu sangat bersemangat untuk memilih film tersebut. Beberapa gambar menunjukkan adegan dua orang yang sedang beradegan syur di ranjang, pada gambar lain terlihat seorang wanita sedang mengenakan bikini. Saya sendiri sih tidak terlalu tertarik dengan film tersebut karena insting saya tidak berkata apa2 saat itu dan lagian pun saya sudah menetapkan pilihan pada dvd yabg memuat kumpulan seri film Naked Gun, ituloh film action parodi yang dibintang oleh si kocak Leslie Nielsen, yang membuat dia diangkat jadi rajanya film2 spoof/parodi oleh kerajaan hollywood. Teman saya kekuh meyakinkan saya untuk mengambil film tersebut sambil menambah2in bahwa film ini bakal “asik banget”. Saya pun menyerah dan memasukkan dvd itu dalam bon saya. Suatu keputusan yang bakal saya sesali kelak.

Kelar memburu dvd dan makanan untuk acara begadang malam itu. Kami langsung kembali ke tempat acara begadang malam itu akan dilansungkan. Host malam itu ialah sahabat saya yang lainnya, Riki. Rumah riki sedang kosong, keluarganya sedang bepergian ke luar kota dan kami memutuskan untuk “meramaikan” rumah riki malam itu.

Setumplek2 makanan sudah berserah diri untuk disantap oleh kami dan acara menonton film pun segera dimulai. Untuk film pertama, kami memutuskan menonton film Naked Gun yang saya pilih. Dua jam pun dilewati dengan perut yang sakit serta rahang mulut yang pegel karena tertawa sejadi-jadinya menonton aksi gokil Leslie nielsen di film itu. Film pilihan saya pun kelar disaksikan dan kini saatnya untuk membuktikan insting teman saya yang tadi dalam memlih film. Film “Frooogg” itu pun siap kami saksikan.

Film dibuka dengan adegan animasi yang menggambarkan bagaimana monster kodok itu memperoleh bentuknya, lalu dilanjutkan dengan pengenalan cast and crew. Lalu adegan demi adegan pun bergulir dan sepertin yang sudah saya sangka, ini adalah film kelas B bahkan mungkin bisa masuk dalam film kelas C. Jenis2 film yang dibuat dengan budget rendah, dengan cerita seadanya dan tanpa bintang yang mumpuni. Film ini sendiri punya plot cerita yang sudah sering dibuat filmnya. Tentang sebuah ekperimen yang limbahnya mempengaruhi lingkungan dan mengakibatkan mutasi genetik pada makhluk2 yang terkena zatnya. Di film ini katak yang menjadi monster ini menyatroni kota untuk mencari wanita-wanit untuk dibuahi (disni kodoknya jantan). Dan yang saya perlu bilang ini film memang benar2 buruk. Monster kodok disini hadir tidak cukup meyakinkan untuk kita. Tidak teknik make-up yang mumpuni untuk mendandani sang kodok. Monster yang hadir disini ialah monster dengan pakaian spandek ketat warna hijau, topeng kodok2an yang mungkin bisa didapat dari toko-toko mainan anak-anak. Hal buruk lainnya, akting para pemain serta penuturan cerita yang… entahlah harus saya bilang apa karena saking jeleknya mereka disini. Saya mencoba menghibur hati, saya membatin semoga adegan panas yang gambar adegannya tampil di sampul DVD setidaknya dapat menjadi penghibur kekecewaan saya ..uupss lagi-lagi saya harus kecewe. Ketika sampai di adegan ranjang, ternyata tidak lebih menghibur. Saya seringkali menonton film2 kelas B dan biasanya mereka meletakkan adegan ranjang yang super hot untuk menarik minat menyaksikan film mereka dan itu cukup setimpalah untuk film berkualitas standar. Tapi di film ini, adegan panasnya pun tidak jauh lebih baik. Entah para pelakon disni benar2 berakting buruk ataukah sutradaranya baru pertama kali membuat film. Akting mereka disni sungguh di taraf “menyedihkan’ bayangkan saja untuk berakting dalam adegan ranjang yang sepertinya tidak butuh aking yang cukup mumpuni mereka berakting tidak cukup meyakinkan dan pengadeganannya pun sama buruknya dengan skill akting para aktor/aktris. Saya pun melongo menyaksikan ini, melongo bukan karena terpana menonton adegan syur tersebut tapi melongo karena saya tidak percaya bahwa saya pernah menonton film sejelek ini dalam hidup saya. Film pun berakhir dengan sang kodok yang ditembaki oleh sherif kota dan film itu pun berakhir juga. Saya memalingkan muka kepada teman saya yang telah memilih film itu, dia hanya bisa cengengesan karena berkat instingnya lah saya harus mengalami pengalaman buruk dalam garis sejarah saya menonton film. Dalam nenonton film kadangkali kita dihadapkan dalan film yang bagus dan film yang jelek. Dan dalam kasus menonton film”Froogg” ini harus saya katakan bahwa Saya tidak pernah semenyesal ini ketika mendapati diri menonton film yang jelek. Karena saya berharap tidak pernah menonton film ini dalam hidup saya.

Sejak itu saya tidak lagi percaya dengan insting sahabat saya yang itu dalam memilih film, you got bad taste Dude!!!

1 comment:

  1. hmmmm....sgitunya ya bu?? hahahahah
    dr nama yang nyaranin aja dah aneh "OPING" ?? what thats mean?? masa di percaya....then look at the title,
    weird!!

    ReplyDelete