Nonton film Transformesr: Dark Of The Moon ini ialah suatu "perjuangan" bagi saya. Perjuangan pertama ialah saya harus rela buang duit ke negara tetangga demi melihat Sam Witwicky diserang puluhan robot dan selamat. Perjuangan kedua ialah saya harus menahan kantuk yg amat sangat karena kurang tidur saat menonton film ini. Ditambah saya nontonnya di layar IMAX 3D yg bikin mata lebih mudah lelah, maka hampirlah saya ketiduran beberapa kali di film ini.

Lalu apakah perjuangan saya itu terbayar?

Transformers 3 itu memang suguhannya ialah aksi perang para robot, ledakan-ledakan fantastis, mobil keren, dan lekukan tubuh Rosie Huttington-Whiteley. Sepertinya di otak Michael Bay saat mau bikin film ini ialah ACTION, ACTION, ACTION. Sehingga gak fokus ama plotnya sendiri. Awal-awal film ini sendiri sih plotnya masih bingung mau kemana? Ada aksinya, mesra-mesraannya, hingga komedi maksa. Bahkan saya dilanda bosan dengan scene pembukanya, lebay ah kalo kata saya. Andai cerita-cerita di bagian awal dipangkas dan dipadatkan saja mungkin lebih bagus. Kita gak perlu berjalan jauh dulu hanya demi menuju ke tujuan utamanya. Mana film Transformer ini luar biasa panjangannya. 157 menit aja gitu. Kalo penulisnya gak pinter-pinter ngatur cerita, yang nonton mungkin udah sibuk lihat pintu keluar.

So, Transformer 3 ini menarik atau nggak? Saya bilang sih sangat menarik. Apalagi saat itu saya nonton di layar IMAX 3D. Jadinya kenikmatan nonton film ini jadi puluhan kali nikmat.. Kita akan dibikin orgasme ama adegan-adegan aksi makhluk bumi & Autobots Vs. Decepticon ini. Kedodoran di cerita? Ow, please. Gak ada yg beli tiket Transformers 3 dan berharap untuk mendapatkan cerita sekelas 'King's Speech' atau 'Black Swam'. Yang di otak pasti kita pengen sesuatu yg seru, yang bikin teriak kagum dan kesenangan dan untuk hal itu, Michael bay berhasil dengan Transformer 3-nya ini.

Di kawasan Yahudi ortodok di Israel, Aaron seorang tokoh agama dan pengelola toko daging peninggalan orang tuanya didatangi Ezri, pria muda tampan yg berniat awal ingin meminjam telepon di tokonya. Aaron yg kebetulan saat itu sedang mencari pekerja untuk tokonya akhirnya memperkerjakan Ezri dan memberinya tumpangan tinggal di tokonya. Sejalan dengan berjalannya waktu yg mereka habiskan bersama, munculah hasrat Aaron akan Ezri walau awalnya dia menolak sekuatnya. Hubungan mereka pun semakin berkembang dan membuat Aaron berada di posisi sulit. Ia berada di persimpangan antara penolakan pihak setempat dan kecurigaan istrinya dengan mempertahankan cintanya kepada Ezri yg dia sebut '..telah membuatnya serasa hidup kembali..."

'Eyes Wide Open' secara garis besar seperti 'Brokeback Mountain' tapi dengan dengan seting berbeda. Kita beralih dari dunia macho para koboi Amerika ke kawasan religius di Jerussalem. Tapi temanya sama, bagaimana dua pria harus menjalani cinta mereka di tengah lingkungan yg secara tegas menolak homoseksualitas dan bergelut dengan pengkhianatan terhadap keluarga mereka sendiri. 'Eyes Wide Open' mengalir dengan lembut dan rapi dengan pergerakan gambar yg indah. Cerita yg ditutur perlahan mengikat kita kepada Aaron beserta ketakutan, kebingungan, dan tergodanya ia dalam menjalani hubungannya dengan Ezri. Dilemanya dalam mengambil pilihan antara keluarga, teman, keyakinan dengan insting cintanya akan Ezri. Pilihan yg manapun yg dipilih akan mengakibatkan ada hati yg akan berpendar sedih. Film dengan cerita bagus, mungkin tidak terlalu istimewa karena banyak film dengan tema sejenis tetapi tetap menarik untuk diikuti.
UNCLE-articleLarge.jpg

Boonme, seorang duda yg mempunyai ginjal yg bermasalah tinggal di pedesaan Thailand. Sehari-hari ia dirawat oleh imigran dari Laos, Jaai. Satu hari Boonme kedatangan Jen, adik iparnya yg pergi berkunjung bersama Tong. Saat makan malam bersama, muncul tiba-tiba arwah dari istri Boonme, Huay dan putranya Boonsang yg sekarang sudah menjadi manusia monyet. 

Saya peringatkan terlebih dahulu bahwa jika anda seorang yg sepuluh film teratas di daftar film terfavorit ialah film-film macam Transformer, American Pie, atau film-filmnya Cameron Diaz sebaiknya mengurungkan menonton film ini. 'Uncle Boonme' bukan ditujukan kepada penikmat film berjiwa blockbuster tapi lebih kepada yg berjiwa film festival. Rima filmnya sangat amat lambat dan teratur. Anda bisa ketiduran dibuatnya. Saya sendiri bahkan hampir menyerah menonton film ini. Ingin rasanya menekan tombol stop dan beralih menonton film 'Battle of Los Angeles'. Dua jam film ini benar-benar terasa panjang. Film ini sendiri tidak punya plot yg terang apa maunya. Bahkan setelah film ini selesai pun, kita akan masih meraba-raba dengan sejuta tanda tanya di kepala.

Lalu apakah film ini jelek? Saya tidak bilang begitu. Jika jelek tidak mungkin film ini memenangkan Palm d'Or di Festival Film Cannes yg saat itu jurinya dikepalai oleh Tim Burton. Kesimpulannya ialah film ini bukanlah untuk semua orang. Silahkan kalau mau mencoba menonton film ini. Mungkin anda tidak seperti saya yg tersesat dan frustasi di dalam labirin yg dibangun oleh film ini. Anda mungkin malah mengapresiasi perjalanan 113 menit melewati bagian-bagian film yg disusun dengan indah oleh Apichatpong Weerasethakul. 
Di  kompetisi American Idol 2011, Haley Reinhart ialah orang yang saya harapkan dieliminasi di babak-babak awal. Saat itu saya menjagokan Naima Adedapo, Pia Toscano, dan Casey Abrams. Seiring kompetisi berlanjut, ketiga orang unggulan saya itu pun didepak dari kompetisi satu per satu. Tapi sejalan itu juga, seorang Haley Reinhart mulai mencuri hati saya. Haley yang di awal kompetisi terseok-seok, berkembang menjadi kontestan kuda hitam yang mesti diwaspadai. Ia mencuri perhatian saya setelah dengan sempurna membawa lagu "Bennie and The Jets". Setelah itu Haley mengantarkan penampilan-penampilan yg sangat kuat. Salah satu favorit saya itu ialah saat ia membawa lagu "Rolling In The Deep" dan "House Of The Rising Sun". Maka inilah Haley Reinhart jagoan saya untuk menjuarai American Idol tahun ini.


Apa makna "trashy reality show" bagi saya? Acara Reality show apapun yang membuat alis berkerut, kepala geleng-geleng dan membuat saya ingin memuntahkan apa yang sudah saya tonton ke dalam toilet dan tekan flush sebanyak-banyaknya agar acara ini tenggelam bersama kotoran-kotoran. Ini di antaranya:


1. Paris Hilton's My New BFF

Untuk menjadi sahabat Paris Hilton butuh jalan yg cukup panjang, termasuk diantara harus mampu bertahan pesta semalam suntuk, bisa berpose bagus untuk paparazi ketika naik rollercoaster, hingga siap jika harus berpose dengan harimau. Setidaknya itulah yg digambarkan di acara buatan MTV ini. Belasan kontestan berebut menjadi sahabat baru Paris dengan cara menjalani berbagai macam tantangan bodoh di sana. Kepantasan pun diuji sebagaimana mau para kontestan ini mengikuti kemauanya Paris. Seperti membersihkan kotoran anjingnya hingga nari striptease di depan umum.
Seems like in Paris' world, friendship comes with terms.

2. Termehek-mehek/Realigi

Dua reality kesohor dari rumah produksi yang sama yang menurut saya bertanggung jawab dalam mempopulerkan reality show penuh rekayasa di TV Indonesia. Dan dalam pikiran para kreatornya, reality show itu haruslah selalu dipenuhi dengan orang marah-marah secara lebay, pertengkaran gak penting, dan drama penuh skrip disana-sini. Fakta bahwa acara ini penuh rekayasa semakin terkuak ketika beberapa orang mengaku dibayar untukk tampil disini dan ada beberapa orang-orang di dalam reality show itu yg kedapatan muncul di reality show lain (ck ck ck ck). Termehek-mehek dan Realigi ialah reality show yang lebih mendekati sinetron ketimbang dunia nyata. Dan sayangnya "sinetron" ala mereka punya deretan aktor/aktris yang buruk-buruk

3. The Bachelor/The Bachelorette

Enaknya kalo ikutan acara ini ialah si Pria/Wanita yg mencari cinta, bisa menggilir belasan kontestan yang berkompetisi merebutkannya. Terdengar mesum? Bisa jadi. Tapi menggilir disini bukanlah dalam artian meniduri mereka tapi mengajak kencan satu persatu, kalau terbawa suasana keduanya pun saling bercumbu mesra (gak tau juga apa di belakang kamera berlanjut ke ranjang). Di akhir nanti, satu orang dipilih sebagai orang pilihan si Pencari Cinta. Belasan orang 'dites' oleh satu orang dan kemudian satu pasangan terbentuk. Sound stupid, right? Bahkan mengingat orang-orang yang ikutan acara ini punya tampang-tampang indah, jadi kalo mau dipikir-pikir mereka gak butuh acara beginian buat dapetin pasangan.

4. Uya Emang Kuya

Ketika acara sulap Romi Rafael bertemu dengan Termehek-mehek maka jadilah acara Uya Emang Kuya, reality show dari magician-wannabe yg mantan personil ToFu, Uya Kuya. Jadi Uya berkeliling pasar atau mall, mencari orang yang mau dihipnotis dan lalu ditanya-tanyain. Biasanya nanti yang jadi target pasangan atau kumpulan remaja. Nah disini twistnya, saat ditanya-tanyain si Terhipnotis membongkar rahasia-rahasia kotor mereka dan itu biasa melibatkan orang yg sedang bersama mereka saat itu. Lalu drama pun merebak, kedua orang atau lebih saling berbongkar rahasia. Silakan putuskan ini pura-pura atau bukan. Semua sangat berlebihan. Dramanya, meh. Please find better actor and much simplier script. Dan masa sih orang yang dihipnotis disitu bisa setuju-setuju aja aibnya dibongkar di TV nasional.

5. Jersey Shore

MTV adalah rajanya reality show, Real World ialah pionirnya. Dan banyak acara sukses MTV itu ialah reality show, termasuk di antaranya The Osbourne, Nick and Jessica, dan The Hills. Yang paling sukses saat ini ialah dokumentasi 8 guido/guidette yang tinggal di satu rumah di pesisir Jersey. Jersey Shore sudah mentasbihkan diri sebagai acara MTV paling sukses dan paling banyak ditonton dalam sejarah, termasuk di antara mengalahkan rating Grey's Anatomy. Padahal isi acara ialah pertengkaran, perkelahian, pesta hura-hura, dan seks. Sedongo-dongonya acara ini ternayat yang nonton jutaan dan jadi fenomena global. Bahkan saya sendiri gak habis pikir bagaimana acaranya ini bisa sangat menarik dan mungkin menjadi "guilty pleasure" untuk sebagian orang. Entah karena merasa seru melihat mereka atau ingin menertawakan mereka-mereka yg doyan tanning ini.

Sinopsis: Diangkat dari buku biografi tak resmi The Accidental Billionaire karya Ben Mezrich, tentang perjalanan menuju sukses Mark Zuckenburg, pemilik situs jejaring sosial paling terkenal saat ini, Facebook. Bagaimana ia dari awal mengembangkan situs ini hingga akhirnya terbelit dengan tuntutan-tuntutan dari orang-orang yang menganggap punya andil di balik Facebook.

>> Apakah cerita di balik Facebook seperti yang ditampilkan di film? Bisa iya, bisa tidak. Apalagi Mark sendiri membantah hampir seluruh bagian dari film ini. Tapi apakah lalu membuat film ini tidak pantas ditonton? Tidak, malah rugi sekali kalau sampai melewatkan film sebagus ini. Alur filmnya yang maju mundur dipresentasikan dengan cerdas dan menawan. Setiap scene sangat mengikat dan menjauhkan kita dari kebosanan. Drama dibangun dengan sangat baik. Apalagi para aktor pun sukses memerankan karakter mereka masing-masing. Jesse Eisenberg dan Andrew Garfield pantas-pantas saja kalau diganjar nominasi Oscar atas kesuksesan mereka.
Tidak perlu terlalu dipikirkan apakah cerita ini benar atau tidaknya. Nikmati saja film seluruh elemen film ini yang ditampilkan secara brilian. Kalau sampai film ini tidak dapat Oscar tahun depan, saya tidak tahu harus bilang apa lagi.

Sinopsis: Adele Blanc-sec, melakukan perjalanan ke Mesir demi mendapatkan mumi seorang dokter. Ia melakukannya demi kesembuhan saudara perempuannya yg mengalami insiden dan terbaring sakit. Di Paris sendiri, sedang dilanda kehebohan karena kehadiran burung Predodactyl.

>>  Mungkin saya yang terlalu berekpetasi terlalu tinggi sebelum menonton film ini. Saya membayangkan film ini bakal seperti film "Pan's Labyrinth" dengan sentuhan komedi. Nyatanya setelah menontonnya, jauh sekali dari yang saya bayangkan. Walau sinematografinya indah tapi saya merasa skenarionya kok amburadul yah. Selain itu judulnya kok terlalu "besar" dibanding isi filmnya. Fokus ceritanya terbagi dua, antara kisah Adele mencari pengobatan adiknya dan cerita kehadiran Predodactyl di tengah kota Paris. Andai saja film ini mau fokus kepada salah satu novel saja dan tidak perlu membaurkan antara novel Adele & The Beast dengan Mummies On Parade,  saya rasa film ini bakal lebih menarik. Diluar itu, film ini punya scene-scene yang berhasil memancing tawa dan ada Louise Bourgoin sangat menyegarkan mata.

Fave Scene: Adegan Adele berusaha menyelamatkan Professor Menard di penjara. Kocak.

FYI: Seri petualangan Adele Blanc-Sec pertama kali muncul di tahun 1976 dengan judul "Adele Et La Bete". Seri terakhir dirilis tahun 2007 kemarin dengan judul "Le Labyrinthe Infernal".