Movie Review | Eyes Wide Open
Di kawasan Yahudi ortodok di Israel, Aaron seorang tokoh agama dan pengelola toko daging peninggalan orang tuanya didatangi Ezri, pria muda tampan yg berniat awal ingin meminjam telepon di tokonya. Aaron yg kebetulan saat itu sedang mencari pekerja untuk tokonya akhirnya memperkerjakan Ezri dan memberinya tumpangan tinggal di tokonya. Sejalan dengan berjalannya waktu yg mereka habiskan bersama, munculah hasrat Aaron akan Ezri walau awalnya dia menolak sekuatnya. Hubungan mereka pun semakin berkembang dan membuat Aaron berada di posisi sulit. Ia berada di persimpangan antara penolakan pihak setempat dan kecurigaan istrinya dengan mempertahankan cintanya kepada Ezri yg dia sebut '..telah membuatnya serasa hidup kembali..."
'Eyes Wide Open' secara garis besar seperti 'Brokeback Mountain' tapi dengan dengan seting berbeda. Kita beralih dari dunia macho para koboi Amerika ke kawasan religius di Jerussalem. Tapi temanya sama, bagaimana dua pria harus menjalani cinta mereka di tengah lingkungan yg secara tegas menolak homoseksualitas dan bergelut dengan pengkhianatan terhadap keluarga mereka sendiri. 'Eyes Wide Open' mengalir dengan lembut dan rapi dengan pergerakan gambar yg indah. Cerita yg ditutur perlahan mengikat kita kepada Aaron beserta ketakutan, kebingungan, dan tergodanya ia dalam menjalani hubungannya dengan Ezri. Dilemanya dalam mengambil pilihan antara keluarga, teman, keyakinan dengan insting cintanya akan Ezri. Pilihan yg manapun yg dipilih akan mengakibatkan ada hati yg akan berpendar sedih. Film dengan cerita bagus, mungkin tidak terlalu istimewa karena banyak film dengan tema sejenis tetapi tetap menarik untuk diikuti.

0 comments:
Post a Comment