Movie Review | Uncle Boonme Who Can Recall His Past

UNCLE-articleLarge.jpg

Boonme, seorang duda yg mempunyai ginjal yg bermasalah tinggal di pedesaan Thailand. Sehari-hari ia dirawat oleh imigran dari Laos, Jaai. Satu hari Boonme kedatangan Jen, adik iparnya yg pergi berkunjung bersama Tong. Saat makan malam bersama, muncul tiba-tiba arwah dari istri Boonme, Huay dan putranya Boonsang yg sekarang sudah menjadi manusia monyet. 

Saya peringatkan terlebih dahulu bahwa jika anda seorang yg sepuluh film teratas di daftar film terfavorit ialah film-film macam Transformer, American Pie, atau film-filmnya Cameron Diaz sebaiknya mengurungkan menonton film ini. 'Uncle Boonme' bukan ditujukan kepada penikmat film berjiwa blockbuster tapi lebih kepada yg berjiwa film festival. Rima filmnya sangat amat lambat dan teratur. Anda bisa ketiduran dibuatnya. Saya sendiri bahkan hampir menyerah menonton film ini. Ingin rasanya menekan tombol stop dan beralih menonton film 'Battle of Los Angeles'. Dua jam film ini benar-benar terasa panjang. Film ini sendiri tidak punya plot yg terang apa maunya. Bahkan setelah film ini selesai pun, kita akan masih meraba-raba dengan sejuta tanda tanya di kepala.

Lalu apakah film ini jelek? Saya tidak bilang begitu. Jika jelek tidak mungkin film ini memenangkan Palm d'Or di Festival Film Cannes yg saat itu jurinya dikepalai oleh Tim Burton. Kesimpulannya ialah film ini bukanlah untuk semua orang. Silahkan kalau mau mencoba menonton film ini. Mungkin anda tidak seperti saya yg tersesat dan frustasi di dalam labirin yg dibangun oleh film ini. Anda mungkin malah mengapresiasi perjalanan 113 menit melewati bagian-bagian film yg disusun dengan indah oleh Apichatpong Weerasethakul. 

0 comments:

Post a Comment