Di Dusun Kedungsari yang berada di kabupaten Jombang, Jawa Timur, seorang anak kecil usia SD yang sedang menggenggam sebuah batu sibuk mencelup-celupkan batu tersebut ke dalam air. Tangannya yang sebelah lagi sibuk memencet tuts-tuts hape yang baru. Entah apa yang sedang dikerjakannya, sedang sibuk ber-SMS ataukah sibuk memainkan fitur game di dalamnya. Bocah itu ialah Ponari, si "anak ajaib" yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit lewat air hasil celupan batu miliknya. Sekarang ini, ada puluhan ribu orang menyemut di rumanya untuk mendapatkan "pengobatan" dari Ponari, sudah empat orang yang menjadi korban meninggal karena berdesak-desakan. Namanya terkenal dimana-mana. Berbagai media datang untuk meliputnya. Di Facebook fanpagenya muncul dengan nama Ponari Sweat. Oleh warga setempat dia dielu2kan. Tempat duduknya di sekolah diberi label dengan kertas bertuliskan "TEMPAT DUDUK PONARI". Sampai Pejabat daerah rela mengantarnya ke sekolah. Waw, waw, waw.
Cerita Ponari bermula dari saat anak itu bermain-main dibawah guyuran hujan dan sambaran petir. Tiba-tiba tubuh Ponari kemasukan di hawa panas dan ia kejang-kejang, layaknya seorang yang terkena sabetan petir. Lalu tiba-tiba muncul batu dibawah Ponari. Batu itu katanya sempat dibuang tapi entah bagaimana ceritanya batu itu bisa kembali ke rumah itu lagi (digarisbawahi: katanya). Suatu hari, tetangga Ponari yang sakit2an meminum air bekas celupan batu hitam Ponari itu. Ternyata setelah meminum itu, berangsur-angsur sakitnya sembuh. Berawal dari sinilah kepercayaan bahwa air celupan ponari mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Kabarnya tersebut sontak menyebar dengan cepat dan mulai menarik orang-orang untuk berobat kepada ponari. Jumlah orang yang datang ke rumah Ponari perlahan tapi pasti meningkat semakin banyak hingga seperti saat ini mencapai ribuan orang dari berbagai kalangan dan daerah.Bagi keluarga Ponari, ia adalah anak emas mereka. Ponari ialah lumbung rupiah mereka. Konon, dalam sehari Ponari bisa menghasilkan sekitar Rp 50 juta. Itu didapat dari hasil penjualan kupon antrian seharga Rp 2.000,- (kabar terakhir harga kupon meningkat menjadi Rp 5.000,-). Estimasi saat ini, Ponari telah menghasilkan keuntungan hingga 1 miliar rupiah. Ponari pun begitu dimanja. mungkin karena dianggap istimewa, Ponari kemana-mana selalu digendong oleh keluarganya. Di sekolah ia digendong oleh gurunya, hanya untuk menuju bangku duduknya. ia juga memperoleh kebebasan untuk tidak mengikuti pelajaran. Di rumah ia diperlakukan bagai raja, dikipasi, dielus, dan dipijati.
Apakah Ponari memang seampuh yang dikatakan? Seorang ibu menyebutkan bisul yang telah ditanggungnya bertahun-tahun sembuh. Begitupun dengan seorang bapak yang menyebutkan bahwa strokenya sembuh. Tapi seorang yang lainnya menyebutkan sakit rematiknya tak kunjung sembuh padahal ia sudah dua kali kesitu. Seorang anak kecil yang sudah berpenyakit parah pun tidak bisa sembuh juga setelah diminumkan air ponari. Lalu apakah air ponari tidak bisa menyembuhkan semua penyakit. Ataukan khasiatnya memilih-milih orang yang ingin disembuhkan. Ataukah orang-orang yang sembuh tersebut hanyalah kebetulan semata dan mereka sembuh didorong oleh sugesti dari dalam diri mereka sendiri? Tidak ada yang tahu pasti tentang itu. Kejanggaalan yang paling nyata ketika Ponari dikabarkan sakit karena kecapekan dan tahukan bagaimana ia diobati? Keluarganya membawa Ponari ke puskesmas! Apakah seorang anak yang "katanya" punya khasiat tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri? Selentingan juga mengatakan bahwa keluarga Ponari pun tidak berobat dengan air Ponari. tapi itu tidak menyurutkan antusiasme masyarakat untuk mengunjungi Ponari.
Beberapa orang yang memerhatikan fenomena ini mulai beraksi. Pemerhati anak kak seto memprihatikan kondisi kejiwaan Ponari serta hak-hak ponari yang hilang karena ia sibuk dengan mengobati orang-orang. Kehilangan kesempatan bermain, berkembang dan bersekolah. Pemerhati lain mekhawatirkan eksploitasi berlebihan terhadap ponari oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Beberapa Dai mencemaskan kepada rentannya fenomena ini terhadap perbuatan sirik dan musyrik.
Dan sudah mencari ciri khas indonesia yang latah terhadap sensasi yang ada. Di daerah itu juga, muncul sosok lain bernama Dewi yang mempunyai batu layaknya batu Ponari. Lalu beberapa waktu lalu muncul lagi anak kecil lain bernama Siti Romlah yang punya cerita sama. Kabar lain menyebutkan seorang pria juga menemukan batu sakti yang memanggil dirinya. Apakah itu nyata adanya atau mereka cuma sekedar "ponari-ponarian". Entahlah... Tapi jika melihat bagaimana suksesnya Ponari sekarang, bukan tidak mungkin banyak orang tergiur untuk mencoba peruntungan seperti itu.
Jadi, sampai kapankah fenomena ini berlangsung. Tergantung, tergantung pada semujarab apakah Ponari itu. Jika seiring waktu air celupan Ponari memang terbukti mampu menyembuhkan, maka akan makin banyak dan banyal orang lagi kesana. Tapi jika kemujarabannya mulai diragukan dengan sendirinya orang akan mulai meninggalkannya. Fenomena itu akan hilang dengan sendirinya dan diganti dengan fenomena lainnya. Dan saat itu terjadi Ponari dan sekeluarga sudah dapat santai dan duduk manis meikmati hidup.
entar energi listrik dari petir itu lama kelamaan hilang lho.
ReplyDelete